Kamis, 14 Februari 2008

Gubernur Sumbar Dukung Larangan Peringatan Valentine


Gubernur Sumbar, H. Gamawan Fauzi mendukung keputusan Pemko Bukittinggi yang melarang semua acara dan bentuk kegiatan menyambut Valentine’s Day (hari kasih sayang).

“Kita umat Islam sudah jelas hari-hari pentingnya, kapan kita puasa dan lainnya,” ujarnya saat menjawab wartawan di sela-sela kegiatan di Kantor Bank Indonesia, Padang, Rabu (13/2) kemarin.

Fauzi mengatakan, Islam telah memiliki hari-hari besar dalam agama sendiri. Jadi, kaum Muslimin tidak perlu lagi merayakan hari yang bukan menjadi hari besar agama Islam.

Apalagi, soal berkasih sayang, Islam telah mengajarkan umat untuk saling menyayangi dan mengasih sesama umat. Bukan satu hari saja, sebagaimana makna dari Valentine' Day tersebut. “Kita berkasih sayang kan bukan satu hari saja, setiap waktu kita diharapkan untuk memberikan kasih sayang kepada sesama umat,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, langkah berani ini diambil pihak pemerintah kota Bukittinggi setelah melaksanakan musyawarah bersama dengan Muspida hari Selasa lalu. Dengan hasil musyawarah ini, mulai hotel, restoran dan berbagai jenis kegiatan yang mengadakan acara Valentine’s Day (hari kasih sayang) dilarang.

ImagePemerintah kota itu juga melarang acara yang bernuansa maksiat tersebut. Boleh jadi, ini satu-satunya sikap tegas di Indonesia. Walikota Bukittinggi, Drs. H. Djufri, didampingi Wakil Walikota, H. Ismet Amzis, SH., dan Sekda Drs. H. Khairul, menyampaikan hal itu dalam jumpa pers, Selasa (12/2) kemarin. Jumpa pers itu juga dihadiri PHRI Bukittinggi, Kakan Kesbanglinmas, Kakan Sat Pol PP, Kakan Perhubungan, Kakan Pariwisata, Seni dan Budaya, dan Kabag Humas.

“Saya sangat banyak menerima pesan pendek lewat telepon selular saya. Yang intinya melarang adanya perayaan Valentine’s Day di Bukittinggi. Masukan dari masyarakat itu dimusyawarahkan dengan Muspida, dan ternyata Muspida sepakat di Bukittinggi tidak ada acara perayaannya,” tegas Walikota.

Selain banyaknya pesan pendek dari warga, seluruh wartawan yang bertugas di Bukittinggi, juga berharap yang sama. Warga tidak ingin di tanahnya ini ada acara yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Setelah dipelajari ternyata Valentine’s Day itu bukanlah budaya bangsa ini.

“Ajaran agama yang kita anut, yakni Islam melarang acara seperti itu. Meski labelnya hari kasih sayang, toh bila sudah dilaksanakan tidak sesuai dengan aturan, maka dia jadi terlarang. Agama apapun di muka bumi ini tidak membolehkan penga­nutnya melakukan perbuatan maksiat,” katanya.

Walikota juga menghimbau seluruh warga kota, terutama keluarga yang mempunyai anak perempuan atau anak gadis, agar tidak membolehkan anak gadisnya keluar malam, kecuali dengan alasan penting. Karena selain Pemko dan jajarannya, warga sendiri juga berkewaji­ban membantu menertibkan kota ini.

Untuk lebih terpadunya pengawalan pada malam Kamis lalu, Pol PP bekerjasama dengan Polresta Bukittinggi, Kantor Perhubungan, Kantor Pariwisata dan Kantor Kesbanglinmas melakukan penjagaan di titik-titik rawan dalam kota, di hotel-hotel baik berbintang maupun hotel melati, rumah makan dan restoran serta tempat-tempat keramaian lainnya. Coba semua pemimpin di Indonesia tegas seperti ini. [hsg/cha/www.hidayatullah.com]



Tidak ada komentar: